Search
  • ak2374

Organisasi-Organisasi Advokat Pekerja Migran di Taiwan

Setelah Jembatan Nanfang’ao runtuh pada bulan Oktober, ada banyak orang-orang yang mulai memperhatikan nelayan asing di Taiwan. Runtuhnya jembatan mendapat perhatian internasional karena runtuhnya itu luar biasa. Jadi, media online dan koran Taiwan mengambarkan kondisi bekerja perikanan dan kondisi kehidupan di Nanfang’ao. Namun, sebelum jembatan runtuhnya, ada beberapa organisasi yang sudah lama berusaha mengubah kondisi bekerja dan kehidupan nelayan asing dan tenaga kerja migran secara umum. Oleh karena itu, sudah ada informasi-informasi tentang pengalaman pekerja migran di Taiwan.


Jembatan Nanfang'ao


Ada organisasi-organisasi yang memfokuskan tentang memperbaiki hukum, menyediakan bantuan untuk pekerja migran, pertukaran budaya, dan pemberdayaan diri. Biasanya, organisasi-organisasi akan melakukan beberapa fungsi ini. Sebagai tambahannya organisasi yang menganjurkan untuk hak pekerja migran, ada orang-orang individu yang peduli program pekerja tamu di Taiwan juga. Kebanyakan organisasi-organisasi dan orang-orang mengkritik eksploitasi di dalam program itu. Misalnya, mereka akan menyerang pencurian oleh agensi broker dan jam kerja yang berlebihan.


Walaupun organisasi-organisasi dan orang-orang itu mengkritik majikan-majikan dan agensi broker, ada beberapa aspek yang sama di antara mereka. Kebanyakan advokat Taiwan untuk pekerja asing sama majikan-majikan dan agensi broker percaya bahwa pekerja asing pantas menerima perawatan yang baik karena mereka berkontribusi pada perkembanngan ekonomi Taiwan. Akibatnya, mereka hanya melihat pekerja asing sebagai alat-alat untuk keuntungan.


Aktivitas Yang Berada di Keelung (10 November)


Akhir-akhir ini ada seorang nelayan Filipina yang sakit selama satu bulan. Dia mendapat batuk dan sakit dada karena kapalnya tidak menyedia tempat tidur. Jadi, dia harus tidur dimana pun kering. Kadang-kadang tempatnya di dekat enjin. Saat dia dan nelayan lain mengeluh kepada kapten, mereka dipecat oleh majikan. Meskipun dia bertanya broker untuk pergi ke rumah sakit, brokernya tidak mengantar dia ke sana. Akhirnya, dia pergi ke rumah sakit dengan organisasi yang membantu nelayan migran. Sayangnya, ternyata dia mendapat pneumonia dan harus menginap di rumah sakit selama sepuluh hari.


Total biaya adalah lebih NT$60.000. Dia tidak mempunyai asuransi kesehatan karena dia tidak mempunyai kerjaan. Walaupun dia sudah bekerja di Taiwan selama delapan tahun, dia baru saja pulang dari Filipina setelah menghabiskan beberapa bulan di sana. Jadi, dia tidak bisa memperpanjang kartu asuransi kesehatan. Kemungkinan dia harus membayar semuanya sendiri.


Mengapa pekerja migran harus mempunyai kerjaan agar mempunyai kartu asuransi kesehatan? Hampir semuanya warga Taiwan (99,6 persen) mempunyai asuransi kesehatan bahkan jika mereka tidak mempunyai kerjaan. Perawatan kesehatan adalah hak asasi manusia. Akan tetapi, menurut orang Taiwan yang melihat pekerja migran seperti objek-objek untuk perkembangan ekonomi, pekerja migran harus mempunyai kerjaan untuk mendapat perawatan kesehatan.


Memang, tiga hari sesudah Jembatan Nanfang’ao runtuhnya, ada sebuah stasiun berita yang melaporkan bahwa bisnis di restoran-restoran Nanfang'ao turun karena runtuhnya. Berita ini dilaporkan ketika orang-orang masih berduka atas kematian teman dan kawan dari jembatan runtuhnya.


"35 tahun bisnis restoran makanan laut Nanfang'ao menyedihkan! Tamu siang 'kurang dari 10 tabel'" dari https://www.youtube.com/watch?v=fE2P-EYIEJ8


Selain itu, ada satu aspek yang lain mirip di antara orang Taiwan mengenai orang-orang yang bekerja melalui program pekerja tamu. Umumnya, orang Taiwan memperlakukan orang asing seperti anak-anak. Bahkan jika orang Taiwan kata bahwa mereka mau membantu orang asing, mereka masih perilaku sepertinya. Menurut majikan dan broker, orang asing perlu perlindungan karena orang asing tidak kenal dengan masyarakat dan kebudayan Taiwan. Semantara itu, organisasi-organisasi berpikir bahwa orang asing perlu perlindungan dari majikan-majikan dan broker-broker. Menurut semuanya, orang asing mempunyai kurang hak pengambilan keputusan daripada orang Taiwan karena mereka seperti keanak-anakan yang perlu di perlindungi.


Oleh karena itu, kebanyakan organisasi-organisasi tidak mendorong menghapuskan kebijakan yang membatasi bebas pekerja migran. Misalnya, batasan tentang jenis kerjaan. Sekarang, pekerja migran hanya bisa bekerja di sektor manufaktur, konstruksi, rumah tanga, perikanan dan pertanian. Selain itu, ada pembatasan ketat kalau pekerja migran mau berganti majikannya. Namun, hanya sedikit organisasi-organisasi yang memprioritaskan memperluas kebebasan pekerja migran. Yang paling penting, terbanyak organisasi tidak mendorong membangun hak pengambilan keputusan pekerja migran.


Misalnya, setelah Jembatan Nanfang’ao runtuh, ada organisasi-organisasi yang ingin mendirikan sebuah asrama untuk nelayan migran. Hal ini bukan jelek. Namun, mengapa organisasi-organisasi tidak pertama mendorong meningkatkan gaji agar nelayan migran bisa memilih menyewa rumah atau tinggal di asrama atau kapalnya? Organisasi-organisasi sebaiknya menekankan otonomi diri untuk pekerja migran dari pada perlindungan dari atas.


Orang Taiwan menganggap diri lebih mampu dari pada orang asing dari Asia Tenggara untuk banyak alasan. Salah satu alasan yang penting adalah rasisme dihubungkan dengan imperialisme. Kebanyakan orang Taiwan yang mengikuti gerakan sosial adalah anti-Cina. Mereka mendukung pemerintah Amerika karena mereka percaya bahwa pemerintah Amerika akan membela Taiwan melawan Cina. Mereka percaya bahwa Taiwan adalah demokrasi yang terbaik di wilayah agar bisa menyerang Cina. Mereka percaya ideologi dari masyarakat Amerika. Jadi, ada banyak orang Taiwan yang mengikuti gerakan sosial yang memandang rendah pekerja migran. Meskipun mereka bisa membantu pekerja migran yang mengalami kesulitan, mereka sering tidak mendukung memperkuatkan hak pengambilan keputusan pekerja migran.


"Wakil Perdana Menteri Chen Chi-mai (陳 其 邁, kiri) menghibur seorang nelayan Indonesia yang trauma" dari http://focustaiwan.tw/news/asoc/201910030024.aspx


Akhir-akhir ini ada lebih banyak orang-orang peduli kondisi kehidupan dan bekerja untuk pekerja migran di Taiwan. Biasanya, organisasi-organisasi dan orang-orang Taiwan berpikir bahwa mereka berbeda dengan majikan-majikan dan broker-broker. Benar-benar, orang-orang itu punya banyak aspek berbeda daripada majikan dan broker. Akan tetapi, di dalam beberapa cara-cara berpikir, masih ada aspek rasisme yang mirip di antara orang-orang Taiwan yang mau membantu pekerja migran dan orang yang mempekerjakan orang asing. Pekerja migran seharusnya bersikeras bahwa orang Taiwan memperlakukan mereka dengan hormat dan bermartabat.



28 views0 comments